Oleh: Setiyo Purwanto | 26 April 2011

pencucian otak model hipnotis berdalih agama

marakanya pencucian otak saat ini cukup membuat kaget kita semua, dari anak SMA yang sudah direkrut menjadi bomber dan siap jihad.. hingga rekruitment mahasiswa untuk menjadi anggota salah satu jamaah kelompok tertentu. hipnotis memang menjadi salah satu model sugesti yang populer untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh penghipnotis. kalau biasanya trend hipnotis adalah menggunakan benda bertuah (gendam)… atau mendapat rejeki nomplok seperti sms berhadiah, program discount, dll maka sekarang menggunakan agama, dalam hal ini adalah menggunakan “quran hadis” untuk memperdaya pikiran orang.
sangat mungkin sekali dasar agama “quran hadis” menjadi salah satu alat untuk menghipnotis, dengan menyebut ayat nya ini dan hadis itu, kemudian ditafsirkan sesuai dengan keinginan penghipnotis maka orang yang mengikutinya akan tunduk patuh pada perintah penghipnotis. misalnya untuk menjadikan seorang radikal maka ayat ayat yang selalu diulang ulang adalah ayat ayat yang berbau permusuhan, kebencian, dan perang… pengulangan pengulangan ini tentu saja membentuk sistem bawah sadarnya dan akhirnya menghilangkan akal sehat… akhirnya yang terbentuk adalah… aku berani mati demi agama, orang yang menghalangi jalan dakwa harus diperangi ……. orang kafir halal darahnya.. orang islam yang berbeda paham juga halal darahnya….. , jadi pengulangan pengulangan ayat ayat yang bernada permusuhan itulah akhirnya akan menyebabkan agresifitas berdalih agama, membunuh berdalih ayat quran… dan bahkan bunuh diri pun didasarkan pada quran.
orang orang yang sudah berhasil direkrut dengan model hipnotis ini biasanya memiliki stress sosial yang tinggi, dan memang ini sengaja dimunculkan oleh penghipnotis dengan tujuan agar dirinya tidak layak untuk hidup bersosialisasi di masyarakat (stress sosial), wujud dari stress sosial ini dapat berupa ketidak terimaannya bahwa islam ini selalu di kalahkan oleh orang kafir, kemaksiatan yang meraja lela harus segera di tumpas….pemerintah sekarang tidak berdasar syariat yang benar….., umat islam ditindas oleh orang kafir …………. dan masih banyak lagi. nah konflik sosial ini memeiliki tingkat stress yang tinggi kemudian mereka diberikan solusi untuk mengatasinya yaitu dengan “JIHAD” . kalau sudah demikian maka anggota tersebut akan menjadi militan yang sangat radikal dan berani mati.
membahas masalah hipnotis berdalih agama sebenarnya juga terjadi di kelompok pengajian agama yang eksklusif… dimana mereka menganggap kelompoknya yang paling benar, ciri ciri dari kelompok agama yang menggunakan hipnotis ini biasanya tertutup, orang lain yang belum terhipnotis tidak bisa masuk, cenderung menyalahkan kelompok lain, membidahkan kelompok lain, hal ini bisa menjadi penguat sugesti hipnotisnya.
menggunakan quran dan hadis kemudian di tafsirkan sesuai dengan pikiran ustad yang memimpin kelompok tersebut. bahaya dari model pengajian melalui hipnotis ini adalah munculnya fanatisme dalam beragama yang tidak logis dan rasional, dan cenderung agresif, sehingga menimbulkan potensi perpecahan umat dan membahayakan umat islam sendiri dan umat lainnya.
maka kita perlu berhati hati dalam memilih jangan sampai kita atau saudara kita atau anak kita masuk dalam suatu aliran tertentu kemudian terhipnotis… susah untuk disadarkan kembali…. kalau dia sudah mulai berubah pakaiannya, berubah perilakunya… tapi tidak berubah akhlaknya bahkan cenderung tidak berakhlak misalnya berani dengan orang tua, suka menyalahkan orang lain, merasa diri paling benar .. maka berarti tanda tanda dia sudah mulai terhipnotis.
solusinya bagaimana?….

Oleh: Setiyo Purwanto | 20 April 2011

belajar afirmasi dalam duduk iftirasy

Oleh: Setiyo Purwanto | 20 April 2011

belajar khusyu

Oleh: Setiyo Purwanto | 16 April 2011

Biarkan Allah membuat kita bahagia

untuk apa mengejar bahagia, untuk apa mencari bahagia, bagi kita yang penting adalah niat untuk bahagia dan menyerahkan niat tadi dengan “lillahi taala” (ya Allah saya ihlas Engkau buat diriku bahagia). kemudian langkah terakhir adalah merelakan di arahkan Allah dengan sabar. tidak perlu berpikir ini dan itu karena kadang berpikir ini menghambat “pekerjaan Allah” untuk membuat kita bahagia.

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah (18:39)

Pertolongan Allah turun karena kita niat dan dan berserah diri … jadi ayat diatas menegaskan bahwa

1. semua adalah kehendak Allah : makhluk tidak bisa berbuat apa apa dalam mewujudkan apa yang dia inginkan

2. secara kejiwaan kita di anugerahi oleh Allah 2 yaitu niat sebagai wujud keinginan kita dan yang kedua adalah berserah agar Allah mewujudkannya

3. Pertolongan Allah artinya Allah akan menolong kepada hambanya jadi apa yang berhasil kita raih nantinya itu adalah pertolongan Allah bukan usaha kita.

So… bila kita bahagia maka itu wujud dari pertolongan ALlah bukan “usaha” kita meraih bahagia…… tidak ada kata meraih dalam hal ini karena semua Allah yang membantu.

tapi ingat pemahaman ini bisa berbahaya : saya perlu menekankan lagi bahwa “konsep pertolongan Allah” membawa konsekwensi bahwa kita harus mengikuti apa apa yang dikehendaki Allah… karena pertolongan itu harus diikuti step by step…. sekali kita tidak mematuhi apa yang diperintahkan Allah maka pertolongan itu bisa batal dan otomatis keingininan kita tidak akan terwujud.

Oleh: Setiyo Purwanto | 15 April 2011

memisahkan jasad dan Ruh

Hijr ayat 29, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (jasad) dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh (milik)-Ku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Pertama kita harus memahami mana yang jasad dan mana yang Ruh, emnggunakan apa kita memahaminya? menggunakan jiwa. jiwa bisa menyadari oh ini jasad.. ohh ini Ruh. nah ketika kita sudah paham dalam sholat dua hal ini harus kita tempat kan sesuai porsinya. dan jelas ketika kita sholat, karena niat nya sudah lillahi taala maka berarti kita mengikuti Ruh bukan mengikuti jasad… jasad sudah kita program untuk mengikuti syariat di dalam sholat yaitu membaca dan bergerak sholat.
terbangnya jiwa bersama Ruh untuk kembali kepada Allah biasanya memakan waktu yang agak lama, maka perlu jasad untuk bersabar… dimana hal ini kita lakukan dengan tumakninah. keterpisahan ini sebenarnya mirip ketika kita hendak tidur dimana jasad ditinggalkan Ruh
” Allah yang mengambil roh manusia pada saat kematian mereka,dan yang belum mati dalam tidurnya. Allah menahan roh orang yang telah ditetapkan ajal kematiannya, dan melepaskan yang lain (ke badannya) sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar:42)
dalam sholat pun demikian, jadi tidak perlu khawatir untuk tidak kembali, seperti tidur kita juga tidak pernah khawatir untuk tidak bangun lagi… kata Ust Abu .. kalau kita khawatir tidak hidup lagi setalah tidur kita maka kita tidak akan tidur. keterpisahan dalam tidur kita lakukan dengan sikap relaks sikap pasrah dan rela nah persis ketika kita hendak melakukan sholat yaitu dengan pasrah dan rela (baca al baqoroh ayat 46) .
untuk itu kita harus banyak belajar lagi tentang sholat, karena belajar memisahkan jasad dan Ruh ini memakan waktu yang lama perlu adanya keistiqomahan sehingga pelan pelan kita dipahamkan Allah.

Oleh: Setiyo Purwanto | 14 April 2011

kenapa harus takut fana

kalau kita memasuki beberapa ayat dan hadis misalnya tentang :

“Hazim bin Harmalah al-Aslamy berkata: “Saya melewati Rasulullah saw yang bersabda: “Wahai Hazim, perbanyaklah membaca Laa haula walaa quwwata illaa billaah (Tidak ada daya dan upaya, kekuatan kecuali dari Allah), karena ia salah satu simpanan surga” (HR. Ibn Majah).

kalau kita membaca laa haula walaa quwwata illa billah… tentunya dengan kesadaran penuh maka bacaan tersebut akan mengajak kita secara bertahap penghilangan diri. kata laa haula atau tidak ada kekuatan dalam diri kita artinya adalah penghilangan diri ya artinya fana . selama masih ada diri berarti masih ada kekuatan, di hadis diatas… “TIDAK ADA KEKUATAN”

nah masih kah kita takut fana ?

ada lagi AL-ANFAL ayat 17 wama romaita iz romaita wala kinnallaharama

ayat yang satu ini jelas jelas menegaskan bahwa bukan engkau Muhammad yang melempar tapi Allah.

jadi diri Rasulullah pada saat itu sengaja ditiadakan digantikan oleh Allah… kata kata bukan engkau Muhammad berarti peniadaan “muhammad” diganti menjadi Allah sang maha mutlak .

sebenarnya pelajaran fana sangat banyak di quran dan hadis, asal dalam memahami dengan kedalaman spiritual bukan sekedar pemahaman kognitif saja.

jadi fana ini merupakan amaliah batin kita suatu posisi kejiwaan dimana kita harus masuk sedikit demi sedikit. saya belajar menuju ke arah sana sedikit demi sedikit dan saya tidak pernah mentargetkan kapan selesainya… ya Allah tuntun saya dan tuntun sahabat sahabat saya yang akan belajar menuju ke fana an untuk menemukan Diri yang Sejati.

Oleh: Setiyo Purwanto | 13 April 2011

kesedot kehendak Allah

saya kesulitan untuk mengambil judul yang pas untuk tulisan saya ini, baiklah semoga uraian saya ini dapat memperjelas apa yang saya maksud. seringkali kita atau saya, dalam menjalani hidup terjadi ketidak sesusaian antara kehendak saya dan kehendak Allah yang akibatnya saya stress.

…Katakanlah : “Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

dalam sholat subuh tadi saya disadarkan Allah bahwa kita menjalankan kehidupan ini harus sesuai dengan kehendak Allah. untuk itu agar sesuai maka kita harus merelakan diri untuk fana agar kehendak ALlahlah yang mutlak berjalan dalam diri saya

“…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Huud:107]

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

Nah ……. ternyata semakin kehendak itu saya ikuti maka daya nya seperti “nyedot” saya untuk selalu mengikuti sifat sifat Allah. satu yang saya contohkan adalah bahwa Allah ini maha sibuk .. maka ketika saya merelakan diri untuk fana kemudian kesibukan Allah ini menjadi “diri saya” maka semangat hidup untuk melakukan sesuatu yang positif meningkat drastis. lagi… Allah memiliki sifat kasih sayang .. ketika saya merelakan diri saya untuk masuk kasih sayangnya Allah maka daya itu menyedot saya sehingga saya seperti tidak mikir mikir lagi ketika memberikan kasih sayang kepada orang lain… dan inipun berlaku untuk semua sifat Allah .. kecuali sifat sombongnya Allah. yang memang itu hanya dipakai oleh ALlah.

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.